BOOKS

LOVE BITES: “Love ain’t enough…”

23304068

Pengarang          : Edith PS

Penerbit              : PT. Gramedia Pustaka Utama, 2014

Halaman             : 200 halaman

Genre                 : Romance, melodrama

Rating                 : 6.9

Vania, sosok wanita karier yang ambisius, sangat mementingkan pekerjaan diatas segala-galanya, modis, gambaran cewek masa kini yang menikah dengan seorang pria bernama Ivan, seorang penulis, dengan gaya hidupnya yang sederhana. Pernikahan mereka dikaruniai seorang anak perempuan lucu berusia lima tahun bernama Cherish. Dengan pekerjaannya yang hanya sebagai penulis lepas, Ivan tidak mempunyai penghasilan tetap sehingga sehari-hari ia lebih banyak berperan dalam mengurus kebutuhan rumah dan anak mereka, Cherish alias sebagai ibu rumah tangga.

Selama ini, Vania merupakan sosok superior dalam pengambilan keputusan. Vania merasa ia tahu segalanya yang terbaik sehingga kedudukan Ivan seringkali hanya sebagai pengikut dan pelaksana keputusan. Vania merupakan pekerja keras, berangkat sebelum anaknya bangun tidur dan pulang setelah anaknya tertidur. Pertama-tama Ivan dan Vania bisa saling menyesuaikan dan berkompromi terhadap ritme hidup mereka yang berbeda 180 derajat sampai suatu hari Vania mendapatkan kenaikan jabatan. Vania mendapatkan fasilitas apartemen mewah dan jadwal kerjanya pun menjadi lebih sibuk. Setelah Vania pindah ke apartemen yang baru otomatis intensitas pertemuan mereka pun berkurang banyak. Mereka hanya bertemu pada saat weekend.

Sejak awal sebelum mereka menikah, sudah banyak yang meragukan hubungan mereka karena Ivan dan Vania adalah sosok yang sama sekali bertolak belakang.

“…Ivan seperti jeda bagiku. Ketika aku tidak harus pusing memikirkan apa target selanjutnya, ketika aku bahkan tidak harus tampil sempurna, aku selalu tahu Ivan akan menjadi tempatku menjadi aku saja.”

(Halaman 62)

 

Bagi Vania, karakter Ivan yang bertolak belakanglah yang menjadi daya tariknya. Dengan kecuekannya dan ketiadaan sifat mendominasi Ivan mampu membuat Vania merasa nyaman dan yakin bahwa hubungan mereka akan langgeng karena Ivan akan selalu mengalah.

Namun, sejalan waktu pandangan masyarakat yang masih kolot akan prinsip emansipasi wanita – pria bekerja dan istri dirumah merawat suami dan anak – tak urung membuat Ivan minder dan malu.

“Oke! Gue minder. Gue Malu.

Tapi sekali lagi, Vania tidak pernah terlalu mempermasalahkan hal itu. Setidaknya didepan gue. Dan itu membuat gue begitu menyanyagi dia. Dia menerima gue apa adanya. Tidak mengeluh apalagi menuntut tentang keadaan finansial gue. Gue tahu, dia sudah terlalu sibuk untuk melakukan itu. Dan gue ingin memberikan alas an valid bagi dia untuk tetap disamping gue, mengandalkan gue…”

(Halaman 83-84)

Karena merasa ingin menjadi suami yang dapat diandalkan, apalagi dengan karir penulisnya yang saat ini mandek, Ivan ingin membuktikan bahwa ia pun bisa berhasil. Ivan menjual mobil yang dibeli dari uang Vania dan memutuskan untuk berbisnis bersama Ogie, temannya. Karena tidak ingin Vania meremehkannya, Ivan pun merahasiakan hal ini darinya, yang akhirnya menjadi penyebab masalah yang berujung pada pertengkaran besar.

Di lain pihak, kehadiran Cita, guru sekolah Cherish yang humble membuat Ivan kembali merasa diandalkan sebagai laki-laki, perasaan yang tidak pernah dialami Ivan saat bersama Vania. Hubungan mereka secara tidak sengaja meningkat mejadi teman dekat lebih dari sekedar hubungan guru dan orang tua murid, tapi juga bukan sebagai kekasih. Sebenarnya, hubungan Ivan dan Vania sempat membaik yaitu saat Ibu Ivan meninggal dunia.Namun, kedatangan Cita di rumah mereka pada pagi hari – disaat Ivan dan Vania baru saja melewati malam romantis mereka – membuat Vania kalap dan salah paham. Well, ga bisa menyalahkan sih, setiap wanita pasti akan marah besar mengetahui ada wanita lain yang memasuki rumah mereka dengan mudahnya. Vania memutuskan untuk bercerai!

Segala unek-unek yang tersimpan pun akhirnya meledak keluar. Keraguan dan perbedaan yang selama ini yang dianggap menyatukan justru menyerang mereka.

Ivan:

“Berhenti melihat sesuatu dari kacamatamu sendiri! Berhenti memutuskan segala hal secara sepihak! Berhenti melihatku sebagai robot yang selalu mengangguk patuh dibawah kakimu!”

“Aku kira kamu bisa menerimaku apa adanya”

(Halaman 138)

“Aku…hanya ingin satu kali saja bisa menginjakkan kaki diduniamu. Satu kali saja aku bisa merasa terlihat olehmu. Satu kali saja… bisa diberi kesempatan kedua…”

(Halaman 139)

Vania:

“Kamu yang ngga bisa menerima dirimu apa adanya. Nggak menyadari kapasitasmu. Menolak menerima keterbatasanmu.”

(Halaman 138)

“Justru aku yang merasa seperti tobot bagimu. Robot pencetak uang! Selama ini aku tetap bertahan, Van. Setidaknya untuk Cherish. Dan untuk perjuanganku yang mempertahankanmu didepan orang tuaku…”

(Halaman 139)

Terkadang cinta bisa mengatasi segala perbedaan, namun terkadang cinta juga bisa saling menyakiti. Itulah yang terjadi antara Ivan dan Vania, sosok dua orang dengan perbedaan yang terlalu besar sehingga cinta pun sulit untuk menjembataninya. Baik Ivan dan Vania sama-sama bersalah. Ivan, yang menyembunyikan proyek bisnisnya – demi terlihat di mata istrinya – melupakan pentingnya kejujuran dan komunikasi diantara suam istri. Vania – yang merasa lelah karena selalu berusaha yang terbaik demi suami dan anaknya –merasa Ivan tidak lagi menghargainya, malah berselingkuh dengan Cita.

Respek, komunikasi, dan kejujuran merupakan nilai-nilai yang telah hilang dalam hubungan Ivan dan Vania sehingga kesalah-pahaman sekecil apapun bisa merusak hubungan mereka. Bagai kertas yang lecek tak akan bisa kembali halus sempurna seperti sediakala. Begitu pula dengan hubungan suami istri. Tanpa nilai-nilai yang kokoh sebagai fondasi akan mudah rapuh untuk rusak.

Akankah mereka tetap bersama?? Ataukah mereka memutuskan untuk memilih jalannya masing-masing??! Baca deh bukunya.. 🙂

Alur cerita novel ini simpel cukup mudah ditebak sebenarnya dan fenomena ide cerita seperti ini pun tak sedikit ditemukan di kehidupan sehari-hari di masyarakat. Seorang istri dan suami bertukar peran, suami jadi ibu rumah tangga sementara si istri bekerja menghidupi keluarga. Namun begitu novel ini tetap menarik untuk dibaca.

Sometimes love ain’t enough ~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s