BOOKS

INSYA ALLAH, SAH! “Manusia berencana Tuhan yang menentukan”

25325380

Pengarang : Achi TM | Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, 2015 | Halaman : 328 halaman
Genre : Romance, Drama, Religi | Rating : 8.5

“Ya Allah… kalau pintu lift ini terbuka sekarang, aku bernazar aku akan memakai jilbab dan baju muslimah selamanya,” ucapku berusaha tegas, meski gamang.

(Halaman 32)

Silviana Harini, pemilik Silviana Sexy Boutique yang beromzet miliaran terjebak di lift pada saat Ia akan dilamar oleh Dion, kekasih yang telah dipacarinya selama tiga tahun! Ia terjebak bersama seorang pria bernama Raka. Tak disangka ketika ia hanya asal bernazar, pintu Lift pun terbuka. Silvi tak pernah mengetahui bahwa nazar itulah yang akan membawa perubahan besar pada dirinya suatu hari nanti.

Kebahagiaan dilamar oleh Dion Cuma bertahan sebentar karena Silvi hanya mempunyai waktu 99 hari untuk mempersiapkan pernikahannya, sendirian! Karena tertipu jasa WO fiktif akhirnya Dion mneyuruh Raka untuk menemaninya mengurus segala persiapan pernikahan. Namun begitu kekacauan demi kekacauan terus terjadi seakan semesta turut berkonspirasi untuk mengacaukan rencana pernikahan Silvi-Dion. Belum lagi Kiara dan Raka yang selalu rajin “menceramahi” Silvi untuk menjadi religius dan mengingatkan akan nazarnya membuatnya semakin frustrasi. Namun setelah Silvi memutuskan untuk mencoba memakai jilbab untuk menepati nazarnya, proses persiapan pernikahan seakan dipermudah. Satu persatu masalah terselesaikan dengan mudah mulai dari penghulu, catering, hingga baju pengantin. Sayangnya munucul masalah baru: Gina adiknya tidak menyukai perubahan dirinya, Dion mengancam membatalkan pernikahan bila Silvi terus berjilbab, berita miring tentang bisnis butik baju seksinya. Lalu bagaimanakah Silvi harus bersikap, haruskah Ia melepaskan jilbab ataukan terus memakainya? Bagaimana pernikahan ini bisa berlanjut kalau calon pengantin prianya ga ada?

“Saya terima nikahnya Siviana Harini binti Rasyid Mahmud dengan maskawin tersebut dibayar tunai”

”Sah?”

“Saaahh..!”

Cuma itu yang ingin didengar Silvi.

Pertama lihat novel ini di Gramedia, gue udah jatuh cinta sama cover sampulnya yang cantiknya ampun-ampun dan kesannya vintage banget (*Lebay ye gue?). Baca judulnya dan sinopsisnya gue tahu novel ini novel roman Islami tapi ga masalah buat gue karena gue dah tertarik dengan ceritanya. Menurut gue ide ceritanya lucu dan menarik banget. Novel ini berkisah seputar hal yang banyak terjadi di masyarakat sekarang ini, khususnya untuk mereka yang muslim. Tentang pergelutan hati mereka untuk berjilbab, tentang sebagian pria muslim yang lebih menyukai perempuan tak berjilbab, tentang pantangan dan anjuran bagaimana bersikap sehari-hari menurut agama Islam dan setting lokasinya pun masih di negeri kita, Jakarta.

Bab demi bab gue baca dengan asik, novel ini lucu dan segar. Humornya pun ga berlebihan atau kering. Novel ini jelas novel Islami yang sarat akan makna, membantu untuk mengarahkan dan mengingatkan tentang ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari namun tanpa bermaksud menggurui pembacanya. Penggambaran karakter tokoh-tokohnya pun jelas dan mudah dipahami, ga berbelit-belit. Koneksi hubungan antara tokoh satu dengan lainnya pun terkesan natural.

Seperti karakter Silvi sebagai perempuan Islam modern yang cantik, seksi, dan fashionable abis. Gara-gara dulunya pernah di bully seniornya, Ia sekarang berhasil membuktikan bahwa dirinya bukan “itik buruk rupa” apalagi dengan butik baju seksinya yang laris manis dan segudang penghargaan yang telah diterimanya. Penulis berhasil menggambarkan tokoh Silvi bukan sebagai manusia sempurna namun sebagai makhluk biasa yang tak luput dari dosa: jarang sholat, minum wine, memakai baju yang mengumbar aurat, dan mencintai Dion dengan buta berpelukan dan berpegang tangan yang notabene dilarang oleh Islam.

Karakter Raka digambarkan penulis sebagai lelaki yang sederhana, walaupun good-looking namun tidak hiperbola seperti di roman-roman lainnya, malah Raka digambarkan sebagai pria yang malu-malu dan canggung bila berhadapan dengan wanita. Satu sikap yang menonjol darinya adalah Ia SUPER RELIGIUS! Tapi justru itulah tipe suami idaman dalam Islam.

Bab demi bab menjelaskan perubahan hidup Silvi ke arah yang lebih baik. Semuanya tak lepas dari usaha sahabat baiknya Kiara dan Raka yang tak henti-hentinya “menceramahinya” dan ketika Silvi mulai memakai Jilbab Ia merasakan ada sesuatu yang sejuk dan damai merasuki hatinya. Gue suka gimana penulis menceritakan dilema Silvi seperti yang pastinya juga pernah kita alami sehari-hari yaitu: dimana Ia melepaskan jilbabnya demi cintanya ke Dion walaupun Ia telah memutuskan untuk memakainya. Dan Silvi menemukan bahwa ia tak bahagia dan akhirnya Ia pun memilih berjilbab kembali. Gue yakin sebagai manusia biasa kita juga pernah melakukan hal yang sama seperti Silvi: hal seperti berbalik kepada kebiasaan lama kita yang jelek namun lalu tersadar dan bertobat.

Untuk ide dan keseluruhan cerita gue suka walaupun berbau religius namun masih bisa menarik untuk dibaca bagi pembaca yang bukan muslim sekalipun. Tapi menurut gue ada beberapa hal yang kurang dari novel ini:

  1. Karakter Raka agak terlalu sempurna. Kebaikannya yang super terkadang malah terlihat impossible dan naif. Raka harus membayar 25juta untuk tuxedo yang robek dan itu sama sekali bukan kesalahannya dia tapi karena dipaksa memakainya oleh kelima personel Chic Chic.

    “Biar saya beli ini. Ini salah saya karena tak berani tegas. Ini salah saya karena mau dikerjai oleh mereka. Saya harus bayar kemana?” Raka meremas kerah tuxedo itu. Mungkin aku salah lihat, tapi aku melihat tangannya gemetaran. (Hal 130)

  1. Kepercayaan Silvi kepada Dion yang berlebihan. Mana mungkin Silvi bisa terlewatkan untuk tidak menanyakan at least anak teman papanya itu pria atau wanita. Juga ketika tidak ada telpon, kabar atau BBM dari Dion, Silvi masih berpikiran positif dan percaya pada Dion.

Tak ada ucapan selamat malam atau kecupan jarak jauh, Dion mematikan telpon begitu saja (Hal 162)

“Halo? Dion?” Aku nggak suka diabaikan begini. Dia belum pernah seperti ini sebelumnya, “Halo, Dion?” Tut..tut..tut. Dia memutuskan sambungan! (Hal 180)

  1. Kelanjutan cerita Dion yang meninggalkan Silvi begitu saja dan menikah dengan Anna. Harusnya penulis menceritakan kelanjutan mereka berdua – sedikit aja – yang misalnya terkena karma kek, atau pernikahan mereka berakhir gagal dsb. Menurut gue kisah mereka juga terkesan berakhir bahagia.
  1. Beberapa kesalahan typo yang terkadang membuat bingung pembacanya, tapi buat gue sih ga masalah (*hahaha mungkin karena gue bukan penulis kali ya jadi ga gitu ambil pusing).

So, overall novel ini oke untuk dibaca yang jelas ga membosankan. Bagian ending-nya yang ga terduga cukup membuat surprise buat pembacanya. Pengen tahu dengan siapa Silvi menikah pada akhirnya? Baca deh bukunya 🙂

~ Manusia bisa berusaha namun Tuhan yang menentukan akhirnya….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s